Bagaimana Perilaku Konsumsi Islam Di Tengah Suasana Krisis Covid-19

Bisnis.com, JAKARTA – Kondisi pandemi corona COVID-19 yang diikuti dengan penerapan social distancing memunculkan perilaku konsumen baru, tetapi di satu sisi ternyata membuka peluang bagi bisnis perbankan, finansial, dan jasa keuangan untuk memacu pemasaran. Salah satu hasil analisa ialah situasi pandemi rupanya memunculkan perilaku konsumen baru, yang berbeda-beda di setiap negara Asia Tenggara. Kirill Mankovski, Managing Director ADA Indonesia, menilai sekarang merupakan saat yang tepat bagi bisnis perbankan, finansial, dan servis keuangan untuk melakukan pemasaran. “Sebetulnya, brand dapat memanfaatkan situasi ini untuk membentuk kebiasaan baru, serta mengubah channel komunikasi dan penjualannya ke ruang digital. Dengan ditutupnya mayoritas pusat perbelanjaan, belanja online menjadi pilihan utama dalam memenuhi kebutuhan, mulai dari harian hingga hobi. Melihat minat belanja yang tidak reda, hal ini membuka peluang bagi bisnis perbankan, finansial, dan servis keuangan lainnya.

Apalagi, beberapa platform jual beli online menganjurkan pembeli dan penjual untuk melakukan transaksi secara cashless dengan memanfaat servis pembayaran seperti kartu kredit, transfer, atau e-wallet. Dibandingkan dengan akhir Februari 2020, jumlah orang yang beraktivitas di area central business district Jakarta berkurang 53 persen hingga pekan ketiga Maret. Jumlah individu yang melakukan perjalanan ke luar kota seperti Bandung, Yogyakarta, dan Bali pun berkurang hingga pekan ketiga Maret.

Social distancing juga membuat kita banyak menghabiskan waktu di ruang digital baik untuk bekerja, berkomunikasi, belanja, atau sekadar mencari hiburan,” ujar Mankovski. Dengan tetap menjaga posisi tersebut, akan lebih mudah bagi brand atau perusahaan untuk melakukan pemulihan bisnis pada saat situasi kembali normal. Melalui laporan perilaku konsumen ini, ADA berharap brand tetap dapat melakukan komunikasi pemasaran di tengah situasi krisis,” paparnya.

PAPER “KONSUMSI MAKANAN DAN OLAHRAGA SELAMA PANDEMI COVID-19”

Pada bulan Desember 2019, suatu penyakit pernapasan akut yang disebabkan oleh virus SARS Cov-2 (Covid 19) mulai menyebar keseluruh dunia, menimbulkan pandemi dan dinyatakan sebagai “emergency of public health” oleh organisasi kesehatan dunia (WHO) pada bulan januari 2020. Mengacu kepada hasil update terakhir tertanggal 7 Juli 2020 sudah tercatat 64.978 pasien positif corona.

Adanya kebijakan tersebut sebenarnya bernilai positif dalam menekan laju penularan covid 19, akan tetapi tentu saja hal ini menjadikan jatuhnya roda perekonomian masyarakat.

Dengan adanya kondisi tersebut, banyak terjadi perubahan signifikan pada pola perilaku konsumsi masyarakat.

Sehingga dapat dikatakan bahwa covid 19 ini membuat pola belanja masyarakat secara online semakin melebar (1). Berdasarkan data impression dari google analytics yang dirangkum oleh iPrice selama periode Maret 2020 dan Februari 2020 minat belanja produk kesehatan secara online meningkat sebanyak 1986%. Disamping itu tingginya intensitas meeting online dan video conference menyebabkan meningkatnya minat belanja webcam sebanyak 1572%. Dan yang terakhir tren pembelian bahan makanan secara online selama proses lockdown atau pembatasan sosial ini sudah bisa diprediksi.

Untuk selanjutnya (4) memberikan gambaran terkait perilaku konsumen khususnya pada pilihan makanan dan sikap memasak masyarakat Spanyol selama masa karantina darurat covid 19.

Meskipun ada pembatasan selama karantina di rumah, responden tetap melakukan olahraga dan meningkatkan kesehatan mereka.

Bahkan untuk mencegah penyebaran pandemi virus covid-19 penggunaan aplikasi belanja online melonjak hingga 300 persen. Menurut data tayangan dari google trends telah terjadi peningkatan tren pencarian mengenai belanja online.

(8) dijelaskan bahwa kepercayaan dan kepuasan pelanggan berpengaruh signifikan terhadap niat menggunakan kembali transportasi online. Oleh karena itu tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui perubahan perilaku makan dan aktivitas olahraga masyarakat selama pandemi covid 19. Penelitian mengenai perubahan pola konsumsi makanan dan aktivitas olahraga pada masa pandemi ini menggunakan metode analisis deskriptif. Penyebaran dan pengumpulan kuisioner dilakukan melalui survey google form dengan penyusunan pilihan jawaban menggunakan skala likert.

Hasil dari survey melalui google form tadi kemudian dirumuskan dalam Microsoft excel guna pembahasan lebih lanjut dan penarikan kesimpulan sekaligus saran. Konsumsi pisang oleh masyarakat Spanyol dan Italia pada masa pandemi nampaknya sangat tinggi.

Disisi lain, China sebagai negara pertama munculnya virus Covid 19 telah membentuk kebiasaan memesan makanan segar secara online dan menggunakan system pengiriman langsung kerumah(12). Beranjak dari Austria menuju ke Australia, Australian Institute of Sport (AIS) telah mengembangkan kerangka kerja untuk menginformasikan kembali dimulainya olahraga. Sama halnya dengan Spanyol, federasi olahraga, medis dan masyarakat yang terkait dengan olahraga telah mengembangkan protokol yang berbeda untuk meminimalkan dampak covid selama belum kembali ke pelatihan dan kompetisi.

Secara khsusus Laliga sebagai otoritas tertinggi, telah menerapkan protokol wajib untuk tim professional meminimalkan resiko terinfeksi Covid 19 selama pelatihan.

Pada kedua paragraph telah dijelaskan mengenai beberapa kondisi masyarakat dunia dalam perubahan pola makan dan aktivitas olahraga selama pandemi. Menu makanan tradisional hasil resep keluarga masih menjadi pilihan utama dari para responden.

Namun disamping hal itu, layanan food delivery pun tidak begitu diminati oleh responden. Hal ini dinyatakan bahwa sebanyak 31,10% responden tidak menggunakan layanan food delivery dan lebih memilih makanan hasil olahan masakan rumahan.

Dari kebiasan memasak tersebut ada kaitan eratnya dengan pola makan responden selama pandemi melanda.

Responden masih tetap menganggap makan adalah salah satu momen penting yang harus dilakukan dalam sehari.

Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya jumlah konsumsi sayur responden selama adanya pandemi. Di sisi lain sebanyak 47,2% konsumsi produk makanan hasil olahan ultra mereka tidak meningkat sama sekali.

Terjadinya berbagai gangguan kesehatan akibat konsumsi alkohol dipicu oleh pengaruh alkohol terhadap tubuh yang menyebabkan terjadinya stres metabolik pada berbagai sistem dalam tubuh (16).Lebih dari 39% responden melaporkan bahwa mereka mengalami penurunan dari konsumsi makanan ringan seperti permen, keripik dan yang lain sebagainya. Sebanyak 36% responden menyatakan bahwa ia tidak begitu suka dengan adanya minuman atau makanan stimulant ini.

Hal ini mengindikasikan bahwa responden sangat memperhatikan tingkat kesehatan dari makanan yang mereka konsumsi. Namun disamping hal itu sebanyak 48,4% mengaku menggunakan aplikasi online dalam berbelanja kebutuhan sehari hari.

Aplikasi lain yang juga tak luput digunakan oleh sebagian kecil responden adalah Tokopedia, Buka Lapak, dan OLX. Penjualan dengan sistem e marketing ini memang memberikan dampak positif terhadap masyarakat, baik bagi penjual maupun pembeli.

Penggunaan e-marketing melalui marketplace dianggap perlu untuk diterapkan apalagi di tengah Pandemi Covid-19 sehingga kegiatan usaha tetap berjalan dan menghasilkan nilai ekonomi(17) Dari data tersebut dapat diketahui bahwa minat responden terhadap aktivitas olahraga di masa pandemi ini cukup bagus. KESIMPULAN Pola perilaku makan masyarakat selama pandemi covid 19 tidak mengalami perubahan yang signifikan. Disamping hal itu masyarakat sudah banyak yang mulai beranjak menggunakan aplikasi belanja secara online.

Hal ini bukan tidak berarti dimasa mendatang jumlah pengguna aplikasi belanja online akan semakin meningkat. Available from: https://doi.org/10.1016/j.jbusres.2020.05.028 [4] Romeo-Arroyo E, Mora M, Vázquez-Araújo L. Consumer behavior in confinement times: Food choice and cooking attitudes in Spain.

[5] Schnitzer M, Schöttl SE, Kopp M, Barth M. COVID-19 stay-at-home order in Tyrol, Austria: Sport and exercise behaviour in change? [8] Lestari I. TERHADAP NIAT UNTUK MENGGUNAKAN KEMBALI LAYANAN TRANSPORTASI ONLINE DI ERA PANDEMI COVID-19.

[15] Yuliati U. Faktor -faktor yang mempengaruhi konsumen dalam pembelian makanan jajan tradisional di Kota Malang.

Pakar Sarankan Pelaku Ekraf Berorientasi Perilaku Konsumen

Ada prospek usaha yang menjanjikan di tengah pandemi Covid-19, seperti kebutuhan pokok, kesehatan, layanan antar barang, komunikasi, pendidikan, serta pelatihan daring. Dia menyarankan pelaku industri kreatif membekali pengetahuan manajerial start up, business plan, visual branding, dan marketing communication. “Sehingga target pemerintah tidak hanya mengeluarkan dana, tapi keberhasilan dan perkembangan usahan yang keberlanjutan agar para pelaku industri kreatif mandiri,” kata dia.

PERILAKU KONSUMEN : FUNGSI UTILITAS DAN MASLAHAH

Aktivitas manusia untuk menantiasa melakukan konsumsi mempunyai berbagai alasan yang rasional dan masuk akal. Dari beberapa konsep perilaku konsumsi manusia, konsep tentang utilitas lah yang banyak dipakai sebagai acuan para ekonom konvensional (barat) dalam merumuskan konsep-konsep ekonomi kedepannya, salah satunya menjadi dasar pemikiran tentang teori permintaan yang diawali oleh kendala anggaran (budget constraint) dan kurva kepuasan (indefference curve).

Munculnya usaha-usaha untuk senantiasa meningkatkan kesejahteraan masyarakat dunia didasari dari kekurangan konsep utilitas sehingga menimbulkan gerakan-gerakan pemikiran baru tentang perlunya distribusi pendapatan. Manusia sebagai mahluk hidup membutuhkan sesuatu untuk dikonsumsi guna kelangsungan hidupnya dimuka bumi.

Hal itu tentunya tidak lepas dari hasrat manusia untuk senantiasa mendapatkan tingkat kepuasan (utilitas) yang optimum dalam konsumsi. Salah satu tujuan dasar dari konsumsi itu sendiri adalah memenuhi kebutuhan hidup yang terbatas oleh beberapa kendala sehingga tercapai suatu kondisi dimana manusia itu merasakan kepuasan atau utilitas yang optimum. Ada tiga unsur yang mempengaruhi perilaku seorang konsumen dalam berkonsumsi, yaitu: rasionalitas, kebebasan ekonomi dan utilitas. Keinginan konsumen terhadap komoditas tersebut bisa terjadi, dikarenakan adanya advertising (iklan) yang dapat mempengaruhi dan membuat image baru tentang sebuah produk.

Sebagai illustrasi, dalam sistem kapitalisme, manusia merupakan pemilik hakiki atas harta kekayaan yang dimiliki, sehingga ia mempunyai kebebasan untuk melakukan transaksi atas harta tersebut sesuai dengan kehendaknya. Dalam ekonomi Islam, harta kekayaan hanyalah merupakan titipan Allah, sehingga transaksi yang dilakukan oleh seseorang harus berdasarkan norma dan kaidah syari’ah.

Apabila terjadi pelanggaran atas batasan syariah, transaksi yang dilakukan batal, karena dianggap hal itu menimbulkan kemudharatan dalam kehidupan masyarakat. Perilaku seorang konsumen sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan keyakinan dalam menjalani hidup.

Sedangkan, Muhammad (2004) menyebutkan sedikitnya ada tiga prinsip umum yang mendasari perilaku ekonomi seorang muslim. Ini adalah rentangan waktu kehidupan seorang muslim mulai dari lahir sampai meninggal dunia.

Sukses menurut Islam adalah suatu sikap konsen terhadap Allah dan bukan hanya keadaan akumulasi kekayaan. Hal ini mencakup semua aktivitas selama hidup di dunia dalam memenuhi kebutuhannya, akan tetapi ia tidak diperbolehkan untuk mengeksploitasi terhadap makhluk Allah. Mal apakah ia dipandang sebagai kekayaan atau pendapatan, keduanya adalah karunia dari Allah. Karena harta atau kekayaan sebagai karunia Allah, maka ia harus digunakan untuk memenuhi dan mencukupi kebutuhan manusia.

Mereka menjawab: Setiap orang menganggap harta miliknya sendiri lebih berharga daripada milik ahli warisnya”. Kecerdasan ini, merupakan salah satu asumsi yang digunakan dalam mempelajari perilaku konsumen.

Selain itu, perilaku konsumsi seseorang juga dipengaruhi oleh lingkuangan sosial, budaya, politik dan ekonomi. Konsep ekonomi Islam tidak memberikan kekuasan mutlak terhadap kecerdasan manusia dalam aktivitas konsumsinya.

Dengan akal pikiran dan hidayah dari Allah, konsumen dapat lebih cerdas dalam menentukan pilihannya. Allah telah menurunkan aturan-aturan yang dapat digunakan manusia sebagai pedoman dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.

Menurut Marthon (2001), ada beberapa aturan yang dapat dijadikan sebagai pegangan untuk mewujudkan rasionalitas dalam berkonsumsi: Islam sangat membeci tarf, karena merupakan perbuatan yang menyebabkan turunnya azab dan rusaknya sebuah kehidupan umat.

Dampak negatif dari hidup bermewah-mewahan adalah adanya stagnansi peredaran sumber daya ekonomi serta terjadi distorsi dalam pendistribusiannya. Selain itu, dana investasi akan terkuras demi memenuhi kebutuhan konsumsi, hingga akhirnya terjadi kerusakan dalam setiap sendi perekonomian. Qardhawi (2004) dalam bukunya Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam, menjelaskan bahwa batasan Islam tentang pembelajaan ada dua kriteria, Pertama, batasan yang terkait dengan kriteria sesuatu yang dibelanjakan, cara dan sifatnya. Syari’ah Islam melarang perbuatan tersebut, karena dapat menyebabkan distorsi dalam distribusi harta kekayaan yang seharusnya tetap terjaga demi kemaslahatan hidup masyarakat.

Beberapa penulis menganjurkan diadakannya larangan atas beberapa barang mewah tertentu atau membebaninya dengan pajak yang berat untuk menghalang-halangi konsumsinya, lebih-lebih bila kondisi ekonomi masyarakat tidak mengizinkan pengeluaran bagi sumber-sumber yang sudah langka untuk membuat barang itu. Konsumsi yang dijalankan oleh seorang muslim tidak boleh mengorbankan kemaslahatan individu dan masyarakat.

Arti penting ayat ini adalah kenyataan bahwa kurang makan dapat mempengaruhi pembangunan jiwa dan tubuh, demikian pula bila isi perut diisi secara berlebihan tentu akan ada pengaruhnya pada pencernaan. Kesederhanaan merupakan salah satu etika konsumsi yang penting dalam ekononi Islam.

Diantara dua cara hidup yang ”ekstrim” antara paham materialistis dan zuhud. Komoditas dan jasa yang dikonsurnsi seseorang (muslim), harus diperbolehkan secara hukum (syar’i).

Thayyibah adalah segala komoditas yang bersifat hasan (baik secara syar’i), bersih dan suci. Teori ekonomi konvensional mengambarkan tingkat kepuasan seseorang terhadap suatu barang/jasa demi memuaskan keinginannya sebagai utilitas. Fungsi utilitas juga menggambarkan adanya tingkat kepuasan mengkonsumsi sejumlah barang/jasa pada jumlah tertentu. Mashalahah dalam ilmu ushul fiqh memiliki beberapa pengertian, tetapi secara esensi kandungannya adalah sama.

Imam al-Ghazali, mengemukakan bahwa pada prinsipnya maslahah adalah ”mengambil manfaat dan menolak kemudaratan dalam rangka memelihara tujuan-tujuan syara’.” Hal ini dikarenakan kemashlahatan manusia tidak selamanya sejalan dengan tujuan syara’ bahkan lebih didasarkan kepada hawa nafsu. Tujuan syara’ yang harus dipelihara tersebut, lanjut al-Ghazali, ada lima bentuk yaitu: memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Apabila seseorang melakukan suatu perbuatan yang pada intinya untuk memelihara kelima aspek tersebut, maka baru dapat dikatakan maslahah.

Dilihat dari segi kualitas dan kepentingan kemashlahatan itu dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu: Lebih jauh, Abduh Wahab Khallaf (1994) dalam buku Ilmu Ushul Fiqh mengatakan, ”yang terpenting dari tiga tujuan pokok ini adalah darury dan wajib dipelihara. Namun hal ini tidaklah menjadikan manusia dalam rangka melakukan aktivitas konsumsi menjadi kaku dan terkungkung, bahkan sebaliknya, manusia akan senantiasa terjaga dan terpelihara dirinya dari sesuatu yang mengancam kelangsungan hidupnya. Karena ini hanyalah panduan umum yang menjadi acuan dalam penerapan perilaku konsumsi manusia.

Tetapi kriteria untuk menentukan maslahah adalah tidak meninggalkan faktor subyektif seperti dalam kasus utilitas. Kriteria subyektifitas maslahah adalah maqasid syari’ah, yang telah disebutkan sebelumnya.

Utilitas dalam ekonomi Islam hanyalah sebagai alat bantu yang dapat mengukur sesuatu dengan satuan nilai tertentu sehingga menjadikan adanya standar bagi konsumsi manusia, namun hal itu bukan tujuan dari konsumsi itu sendiri. Husain, Abdullah Abdul at-Tariqi, 2004, Ekonomi Islam; Prinsip, Dasar dan Tujuan, Magistra Insani Press, Yogyakarta.

Qardhawi, Yusuf, 2004, Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam, Robbani Press, Jakarta. Siddiqi, M. Nejatullah, 1986, Pemikiran Ekonomi Islam; Suatu Penelitian Kepustakaan Masa Kini, LIPPM, Jakarta.

Modal Sosial Masyarakat Indonesia untuk Mengatasi Wabah Covid-19

Saat ini Indonesia dalam kondisi tanggap darurat bencana non alam, yaitu pandemi virus corona (Covid-19). Jumlah kasus terkonfirmasi, dalam perawatan, hingga meninggal dunia terus meningkat setiap hari. Sejumlah pemodelan (UI, UGM, IPB) memproyeksikan, wabah tersebut akan mencapai puncaknya pada April hingga Mei 2020. Meski demikian tidak ada kata terlambat untuk menghambat dan menghentikan laju penyebaran corona.

Dalam upaya menumbuhkan dan memupuk rasa solidaritas yang tinggi, diperlukanlah modal sosial. Oleh karena itu, Modal sosial dipercaya sebagai “ujung tombak” dalam mengatasi penyakit yang ada di masyarakat.

Membangun kesadaran individu dalam kelompok-kelompok masyarakat penting untuk memutus rantai penyebaran corona. Misalnya saling mengingatkan untuk mematuhi protokol pencegahan penyebaran virus sampai lingkungan terkecil RT/RW.

Gotong-royong adalah modal sosial yang sudah mengakar, warisan leluhur bangsa Indonesia. Dunia usaha seharusnya cepat tanggap mengalokasikan dana CSR untuk penanggulangan bencana corona.

Jika dunia usaha tidak mau ambil bagian, bisnisnya ke depan pasti akan terganggu. Subdimensi ini memainkan peranan penting untuk mengatasi infodemik yang mewabah di berbagai media sosial.

Masifnya penyebaran hoaks terkait corona akan memicu kepanikan publik dan mengganggu sistem sosial ekonomi secara nasional. Menghadapi ini, aparat pemerintah di daerah sampai level desa maupun kelurahan mestinya bisa menjadi komunikator bagi masyarakat. Di sisi lain, pemerintah sebaiknya lebih terbuka terhadap data infrastruktur dan sumber daya untuk mengatasi bencana corona. Informasi tertutup, simpang-siur, dan samar hanya akan menciptakan kepanikan atau ketidakpedulian.

Subdimensi ini berkaitan dengan keeratan sosial, upaya meredam konflik sebagai akibat dari berbagai macam perbedaan antar anggota masyarakat, serta ada tidaknya diskriminasi terhadap akses layanan publik. Tidak dipungkiri, bencana corona berdampak terhadap perekonomian masyarakat, terutama sektor informal dan UMKM. Dana kas/infak rumah-rumah ibadah mestinya dapat dialokasikan untuk kebutuhan makanan masyarakat terdampak langsung, sampai pandemik ini berakhir.

Written by Albara

Jadilah yang terbaik di mata Allah,
Jadilah yang terburuk di mata sendiri,
Jadilah sederhana di mata manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tata Cara Dan Bacaan Sholat Wajib 5 Waktu

Doa Minta Iman Yang Kuat