Tata Cara Orang Meninggal Menurut Islam

Agama Islam mempunyai tata cara tersendiri dalam mengurus jenazah. Fardhu kifayah dalam merawat jenazah adalah mulai dari memandikan, mengkafani, mensalatkan, dan menguburkan.

Salah satu dosen UNY, Dr. Marzuki, M.Ag, menuliskan dengan detail tata cara fardhu kifayah ke jenazah mulai dari memandikan sampai menguburkan. Berikut tata cara fardhu kifayah, tulisan Dr. Marzuki, M. Ag, dikutip detikSumut pada Senin (4/7/2022) dari laman resmi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Melepaskan pakaian mayat lalu ditutup dengan kain agar auratnya tidak terlihat, kecuali anak kecil. Orang yang memandikan hendaknya menggunakan sarung tangan, terutama ketika menggosok aurat si mayat.

Di antaranya dicampur dengan daun bidara atau yang sejenisnya yang dapat menghilangkan kotoran-kotoran di badan mayat, seperti sabun,sampo, dan sebagainya. Menyiram mayit berulang-ulang hingga rata dan bersih dengan jumlah ganjil.

Waktu menyiram tutuplah lubang-lubang tubuh mayit agar tidak kemasukan air.

Yang terakhir, siramlah dengan larutan kapur barus atau cendana.

Untuk mayat perempuan setelah rambutnya diurai dan dimandikan hendaknya dikeringkan dengan semacam handuk lalu dikelabang menjadi tiga, satu di kiri, satu di kanan, dan satu di ubun-ubun, lalu ketiga-tiganya dilepas ke belakang. Setelah selesai dimandikan, badan mayat kemudian dikeringkan dengan semacam handuk.

Letakkan tali-tali pengikat kain kafan sebanyak 7 helai, dengan perkiraan yang akan ditali adalah: Taburkan pada kain kafan itu kapus barus yang sudah dihaluskan. Letakkan kain surban atau kerudung yang berbentuk segitiga dengan bagian alas di sebelah atas. Letak kain sarung ini diperkirakan pada bagian pantat mayit.

Bujurkan kain cawat di bagian tengah untuk menutup alat vital mayit. Ikatkan surban yang berbentuk segitiga dengan ikatan di bawah dagu.

Artinya: Saya berniat salat atas mayat ini dengan empat takbir sebagai fardlu kifayah, menjadi imam/ma’mum karena Allah Ta’ala. Berdoa untuk mayat dua kali setelah takbir ketiga dan keempat.

Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam rangka mengubur mayat adalah sebagai berikut: Cara menaruh mayat di kubur ada yang ditaruh di tepi lubang sebelah kiblat kemudian di atasnya ditaruh papan kayu atau yang semacamnya dengan posisi agak condong agar tidak langsung tertimpa tanah ketika mayat ditimbuni tanah. Para ulama menganjurkan supaya ditaruh tanah di bawah pipi mayat sebelah kanan setelah dibukakan kain kafannya dari pipi itu dan ditempelkan langsung ke tanah. Waktu memasukkan mayat ke liang kubur dan meletakkannya dianjurkan membaca doa seperti:

Artinya: “Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah” (HR. Untuk mayat perempuan, dianjurkan membentangkan kain di atas kuburnya pada waktu dimasukkan ke liang kubur.

Setelah mayat sudah diletakkan di liang kubur, dianjurkan untuk mencurahinya dengan tanah tiga kali dengan tangannya dari arah kepala mayit lalu ditimbuni tanah. Setelah selesai mengubur, dianjurkan untuk mendoakan mayat agar diampuni dosanya dan diteguhkan dalam menghadapi pertanyaan malaikat.

Tata Cara Pengurusan Jenazah dalam Islam, Ketahui Hukum dan Syarat-Syaratnya

Ini mungkin jenazah merupakan korban kecelakaan atau tragedi lainnya. c. Tidak karena mati syahid dalam peperangan yang membela agama islam a. Tempat untuk memandikan yang mana jenazah sebaiknya tidak diletakkan di atas tanah karena dapat mempercepat kerusakan jasad

d. Menyiram air ke seluruh badan dari mulai kepala hingga kaki (sebanyak tiga kali atau lebih dalam jumlah ganjil) dengan membasuh anggota badan sebelah kanan terlebih dahulu. f. Membersihkan kotoran dan najis yang ada pada tubuh jenazah dengan menekan bagian bawah perut sambil kepala dan badan jenazah diangkat perlahan. h. Badan jenazah yang telah bersih dan sudah diwudhukan kemudian disiram dengan air kapur barus atau wewangian lainnya yang tidak mengandung alkohol dan tentunya halal

Tata Cara Melakukan Fardhu Kifayah ke Jenazah Menurut Islam

Agama Islam mempunyai tata cara tersendiri dalam mengurus jenazah. Fardhu kifayah dalam merawat jenazah adalah mulai dari memandikan, mengkafani, mensalatkan, dan menguburkan. Salah satu dosen UNY, Dr. Marzuki, M.Ag, menuliskan dengan detail tata cara fardhu kifayah ke jenazah mulai dari memandikan sampai menguburkan. Berikut tata cara fardhu kifayah, tulisan Dr. Marzuki, M. Ag, dikutip detikSumut pada Senin (4/7/2022) dari laman resmi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Melepaskan pakaian mayat lalu ditutup dengan kain agar auratnya tidak terlihat, kecuali anak kecil. Orang yang memandikan hendaknya menggunakan sarung tangan, terutama ketika menggosok aurat si mayat.

Di antaranya dicampur dengan daun bidara atau yang sejenisnya yang dapat menghilangkan kotoran-kotoran di badan mayat, seperti sabun,sampo, dan sebagainya. Menyiram mayit berulang-ulang hingga rata dan bersih dengan jumlah ganjil.

Waktu menyiram tutuplah lubang-lubang tubuh mayit agar tidak kemasukan air.

Yang terakhir, siramlah dengan larutan kapur barus atau cendana. Untuk mayat perempuan setelah rambutnya diurai dan dimandikan hendaknya dikeringkan dengan semacam handuk lalu dikelabang menjadi tiga, satu di kiri, satu di kanan, dan satu di ubun-ubun, lalu ketiga-tiganya dilepas ke belakang. Setelah selesai dimandikan, badan mayat kemudian dikeringkan dengan semacam handuk.

Letakkan tali-tali pengikat kain kafan sebanyak 7 helai, dengan perkiraan yang akan ditali adalah: Taburkan pada kain kafan itu kapus barus yang sudah dihaluskan. Letakkan kain surban atau kerudung yang berbentuk segitiga dengan bagian alas di sebelah atas.

Letak kain sarung ini diperkirakan pada bagian pantat mayit.

Bujurkan kain cawat di bagian tengah untuk menutup alat vital mayit. Ikatkan surban yang berbentuk segitiga dengan ikatan di bawah dagu.

Artinya: Saya berniat salat atas mayat ini dengan empat takbir sebagai fardlu kifayah, menjadi imam/ma’mum karena Allah Ta’ala. Berdoa untuk mayat dua kali setelah takbir ketiga dan keempat. Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam rangka mengubur mayat adalah sebagai berikut: Cara menaruh mayat di kubur ada yang ditaruh di tepi lubang sebelah kiblat kemudian di atasnya ditaruh papan kayu atau yang semacamnya dengan posisi agak condong agar tidak langsung tertimpa tanah ketika mayat ditimbuni tanah. Para ulama menganjurkan supaya ditaruh tanah di bawah pipi mayat sebelah kanan setelah dibukakan kain kafannya dari pipi itu dan ditempelkan langsung ke tanah. Waktu memasukkan mayat ke liang kubur dan meletakkannya dianjurkan membaca doa seperti:

Artinya: “Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah” (HR. Untuk mayat perempuan, dianjurkan membentangkan kain di atas kuburnya pada waktu dimasukkan ke liang kubur. Setelah mayat sudah diletakkan di liang kubur, dianjurkan untuk mencurahinya dengan tanah tiga kali dengan tangannya dari arah kepala mayit lalu ditimbuni tanah.

Setelah selesai mengubur, dianjurkan untuk mendoakan mayat agar diampuni dosanya dan diteguhkan dalam menghadapi pertanyaan malaikat.

Kenapa Jenazah Tidak Boleh Ditinggal Sendirian?

Bagi sebagian masyarakat pasti penasaran kenapa jenazah tidak boleh ditinggal sendirian sebelum dikuburkan. Menurut sebagian ulama, ada yang mengatakan kalau meninggalkan jenazah di kamar, musala, atau lainnya sendirian sebelum dikuburkan hukumnya makruh.

Oleh karena itu, jangan biarkan jenazah sendirian supaya tidak ada setan yang mengganggunya. Alasan terakhir jenazah ditunggui adalah supaya tidak ada yang melompatinya, terutama hewan kucing.

Entah benar atau tidak, namun kepercayaan tersebut sudah mengakar di benak sebagian masyarakat. 3 alasan tersebut berdasarkan hukum agama Islam dan kepercayaan dari sebagian masyarakat di Indonesia.

Fikih Jenazah (3) : Hal-Hal Yang Disyari’atkan Terhadap Orang Yang Baru Meninggal Dunia

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam ketika mendatangi Abu Salamah yang telah menghembuskan nafas terakhirnya sedangkan kedua matanya terbelalak maka Beliau shalallahu ‘alaihi wa salam memejamkan kedua mata Abu Salamah dan berkata: Imam asy Syaukaniy berkata: “Di dalamnya terdapat penjelasan disyari’atkan memejam kan mata orang yang telah meninggal dunia.Imam an Nawawiy mengatakan: Ulama’ kaum muslimin telah sepakat atas hal tersebut.Mereka mengatakan bahwa hikmaknya adalah agar tidak jelek pemandangan wajahnya” 3. Adapun yang diriwayatkan oleh imam Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf dan imam Al-Baihaqiy dalam Sunan Al-Kubra tentang dzikir ketika memejamkan mata jenazah dari Bakr bin Abdillah rahimahullah bahwasanya beliau berkata:

Adalah semata-mata pendapat beliau tanpa didasari oleh hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jadi tidak ada dzikir atau bacaan doa yang shahih dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam dalam masalah ini 4. “Memecah tulang orang yang telah meninggal dunia adalah seperti memecahnya dalam keadaan hidup” 8.

Berkata penulis kitab Aunul Ma’bud ketika mengomentari hadits ini: “Berkata Ath Thibiy: Di dalamnya terdapat isyarat bahwasanya orang yang meninggal dunia tidak boleh dihinakan sebagaimana ketika masih hidup.Berkata Ibnu Malik: Dan bahwasanya orang yang meninggal dunia merasa tersakiti .Berkata Ibnu Hajar: Kelazimannya menunjukkan bahwa ia merasakan kelezatan sebagaimana orang yang masih hidup.Dan Ibnu Abi Syaibah telah mengeluarkan atsar dari Ibnu Mas’ud ia berkata: A. Para sahabat mengatakan ketika akan memandikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam:

B. Agar badannya tidak cepat rusak karena pakaian yang melekat padanya akan memanaskan tubuhnya. “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika meninggal dunia jasad beliau ditutup dengan pakaian bergaris ala Yaman”12. Para ulama’ menjelaskan bahwa hikmah dari ditutupnya seluruh jasad jenazah adalah agar tidak tersingkap tubuh dan auratnya yang telah berubah setelah meninggal dunia. Namun orang yang meninggal dunia ketika ihram tidaklah boleh ditutup wajah dan kepalanya, berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Mandikanlah dengan air yang dicampur daun bidara lalu kafanilah dengan dua potong kain – dan dalam riwayat yang lain: “ dua potong kainnya “- dan jangan diberi wewangian. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Dan jika ia bukan termasuk orang yang berbuat kebaikan maka kalian telah melepaskan kejelekan dari pundak-pundak kalian.” 14

Berkata pengarang kitab Tharhu at Tastrib syarh at Taqrib: “Perintah menyegerakan di sini menurut jumhur ulama’ salaf dan mutaakhirin adalah sunnah. Ibnu Qudamah mengatakan: Tidak ada perselisihan di antara imam-imam ahli ilmu dalam masalah kesunnahannya” 15 Syaikh Utsaimin mengatakan: “Berdasarkan penjelasan ini maka kita mengetahui kesalahan yang dilakukan oleh sebagian orang yang mereka mengakhirkan pemakaman jenazah sehingga datang kerabatnya… Mereka menunggu selama satu atau sehari semalam agar kerabatnya datang.

Pada hakekatnya apa yang mereka lakukan ini adalah merupakan tindakan kejahatan terhadap jenazah karena jenazah apabila termasuk orang yang baik ia menginginkan untuk segera dikuburkan karena ia mendapatkan berita gembira tentang surga ketika meninggal dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melangkah mendekatinya lalu bersabda, ‘Barangkali Sahabat kalian ini masih mempunyai hutang?’ Orang-orang yang hadir menjawab, ‘Ya ada, sebanyak dua dinar.’Maka Beliau bersabda: “shalatilah saudara kalian. Abu Qatadah berkata, ‘Ya Rasululla shalallahu ‘alaihi wa salam , hutangnya menjadi tanggunganku.’Maka beliau bersabda, ‘Dua dinar hutangnya menjadi tanggunganmu dan murni dibayar dari hartamu, sedangkan mayit ini terbebas dari hutang itu?’Abu Qatadah berkata, ‘Ya, benar.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun kemudian menshalatinya.Pada esok harinya ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bertemu dengan abu Qatadah bertanya : “ apa yang dilakukan oleh dua dinar ? Bukhari : 1241dan Muslim:942 [13] H.R.Bukhari :1265 dan Muslim:1206 [14] H.R.Bukhari:1315 [15] Tharhu at Tastrib syarh at Taqrib :3/289 At Tabriziy, maktabah syamilah [16] Syarh Mumti’:5/259, , Cet: Dar Ibnu Jauziy [17] Dishahihkan oleh syaikh al Baniy dalam Misykatul Mashabih:2915, maktabah syamilah [18] Nailul Authar:4/30, cet:Dar al Wafa’ [19] Dishahihkan oleh syaikh AlBaniy dalam Ahkamul Janaiz:16, maktabah syamilah [20] Syarh Mumti’:5/261, , Cet: Dar Ibnu Jauziy

Tidak Asal Dimakamkan, Ini Tata Cara Mengurus Jenazah Menurut Islam

Dalam Islam, orang yang sudah meninggal akan dikebumikan dengan cara dikafani terlebih dulu. Berikut tata cara mengurus jenazah lengkap berdasarkan agama Islam yang perlu kamu tahu. Mulai dari gigi, lubang hidung, ketika, sela-sela jari tangan dan kaki, serta rambutnya.

Jika sudah, siram tubuh jenazah menggunakan air sabun sampai merata ke seluruh bagiannya. Setelah membaca niat, siram dan basuh jenazah dari kepala hingga ujung kaki menggunakan air bersih. Siram jenazah menggunakan air kapur barus secara merata dari ujung kepala hingga kaki. Artinya: “Saya niat memandikan untuk memenuhi kewajiban dari jenazah (laki-laki) ini karena Allah Ta’ala.” Tali ini kemudian diletakan secara vertikal di bawah kain kafan lapis pertama.

Sebelumnya, kain kafan sudah dipotong terlebih dulu sesuai dengan ukuran tubuh jenazah. Tali ini kemudian diletakan secara vertikal di bawah kain kafan lapis pertama.

Sebelumnya, kain kafan sudah dipotong terlebih dulu sesuai dengan ukuran tubuh jenazah. Bentangkan dua lembar kain kafan yang sudah dipotong sesuai dengan ukuran tubuh jenazah.

Islam Sangat Menghormati Orang yang Meninggal Dunia

Duka yang sedang menyelimuti keluarga musibah sedapat mungkin dikurangi, dengan jalan meringankan beban, seperti merawat jenazah, ucapan rasa belangsungkawa, menghibur, memberikan do’a dan lain-lain. “Tata cara pengurusan jenazah bukanlah semata-mata tugasnya para pengurus masjid / mushola / langgar, atau pemuka agama saja, melainkan tugas kita semua sebagai anggota masyarakat muslim,” ucapnya. Beliau berharap agar penyelenggaraan kegiatan keagamaan tersebut dapat terus terlaksana secara berkesinambungan dengan mengedepankan nilai manfaat. “Dengan pelatihan tersebut akan meningkatkan peran dan memotivasi masyarakat guna membentuk lembaga atau rukun kematian,” tambahnya.

URGENSI MEMAHAMI TATACARA PERAWATAN JENAZAH

Syariat Islam mengajarkan bahwa setiap manusia pasti akan mengalami kematian yang tidak pernah diketahui kapan waktunya. Karena pentingnya persoalan tersebut maka Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Tingkir bekerjasama dengan KUA kecamatan Tingkir bekerjasama mengadakan pelatihan perawatan jenazah pada tanggal 29 Desember 2016 dengan mengundang modin serta kadernya ditambah para praktisi perawat janazah di lapangan. Membantu meringankan beban keluarga jenazah dan sebagai ungkapan belasungkawa atas musibah yang dideritanya.

Hal yang dilakukan jika menyaksikan orang meninggal

Orang yang menyaksikan peristiwa meninggalnya seseorang, hendaklah melakukan hal-hal sebagai berikut: Keluarga jenazah hendaklah dengan segera membayar hutang-hutangnya (jika ia memiliki hutang), sebagaimana sabda Rasulullah :Artinya: “Roh orang mukmin digantungkan pada hutangnya sehingga hutang itu terbayar.” (HR. Dan jika ia bukan termasuk orang yang berbuat kebaikan, maka kalian telah melepaskan kejelekan dari pundak-pundak kalian.” (HR.

Fikih Jenazah (3) : Hal-Hal Yang Disyari’atkan Terhadap Orang Yang Baru Meninggal Dunia

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam ketika mendatangi Abu Salamah yang telah menghembuskan nafas terakhirnya sedangkan kedua matanya terbelalak maka Beliau shalallahu ‘alaihi wa salam memejamkan kedua mata Abu Salamah dan berkata: Imam asy Syaukaniy berkata: “Di dalamnya terdapat penjelasan disyari’atkan memejam kan mata orang yang telah meninggal dunia.Imam an Nawawiy mengatakan: Ulama’ kaum muslimin telah sepakat atas hal tersebut.Mereka mengatakan bahwa hikmaknya adalah agar tidak jelek pemandangan wajahnya” 3. Adapun yang diriwayatkan oleh imam Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf dan imam Al-Baihaqiy dalam Sunan Al-Kubra tentang dzikir ketika memejamkan mata jenazah dari Bakr bin Abdillah rahimahullah bahwasanya beliau berkata: Adalah semata-mata pendapat beliau tanpa didasari oleh hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jadi tidak ada dzikir atau bacaan doa yang shahih dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam dalam masalah ini 4. “Memecah tulang orang yang telah meninggal dunia adalah seperti memecahnya dalam keadaan hidup” 8.

Berkata penulis kitab Aunul Ma’bud ketika mengomentari hadits ini: “Berkata Ath Thibiy: Di dalamnya terdapat isyarat bahwasanya orang yang meninggal dunia tidak boleh dihinakan sebagaimana ketika masih hidup.Berkata Ibnu Malik: Dan bahwasanya orang yang meninggal dunia merasa tersakiti .Berkata Ibnu Hajar: Kelazimannya menunjukkan bahwa ia merasakan kelezatan sebagaimana orang yang masih hidup.Dan Ibnu Abi Syaibah telah mengeluarkan atsar dari Ibnu Mas’ud ia berkata: A. Para sahabat mengatakan ketika akan memandikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam: B. Agar badannya tidak cepat rusak karena pakaian yang melekat padanya akan memanaskan tubuhnya.

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika meninggal dunia jasad beliau ditutup dengan pakaian bergaris ala Yaman”12. Para ulama’ menjelaskan bahwa hikmah dari ditutupnya seluruh jasad jenazah adalah agar tidak tersingkap tubuh dan auratnya yang telah berubah setelah meninggal dunia. Namun orang yang meninggal dunia ketika ihram tidaklah boleh ditutup wajah dan kepalanya, berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Mandikanlah dengan air yang dicampur daun bidara lalu kafanilah dengan dua potong kain – dan dalam riwayat yang lain: “ dua potong kainnya “- dan jangan diberi wewangian. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Dan jika ia bukan termasuk orang yang berbuat kebaikan maka kalian telah melepaskan kejelekan dari pundak-pundak kalian.” 14 Berkata pengarang kitab Tharhu at Tastrib syarh at Taqrib: “Perintah menyegerakan di sini menurut jumhur ulama’ salaf dan mutaakhirin adalah sunnah. Ibnu Qudamah mengatakan: Tidak ada perselisihan di antara imam-imam ahli ilmu dalam masalah kesunnahannya” 15 Syaikh Utsaimin mengatakan: “Berdasarkan penjelasan ini maka kita mengetahui kesalahan yang dilakukan oleh sebagian orang yang mereka mengakhirkan pemakaman jenazah sehingga datang kerabatnya… Mereka menunggu selama satu atau sehari semalam agar kerabatnya datang.

Pada hakekatnya apa yang mereka lakukan ini adalah merupakan tindakan kejahatan terhadap jenazah karena jenazah apabila termasuk orang yang baik ia menginginkan untuk segera dikuburkan karena ia mendapatkan berita gembira tentang surga ketika meninggal dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melangkah mendekatinya lalu bersabda, ‘Barangkali Sahabat kalian ini masih mempunyai hutang?’ Orang-orang yang hadir menjawab, ‘Ya ada, sebanyak dua dinar.’Maka Beliau bersabda: “shalatilah saudara kalian. Abu Qatadah berkata, ‘Ya Rasululla shalallahu ‘alaihi wa salam , hutangnya menjadi tanggunganku.’Maka beliau bersabda, ‘Dua dinar hutangnya menjadi tanggunganmu dan murni dibayar dari hartamu, sedangkan mayit ini terbebas dari hutang itu?’Abu Qatadah berkata, ‘Ya, benar.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun kemudian menshalatinya.Pada esok harinya ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bertemu dengan abu Qatadah bertanya : “ apa yang dilakukan oleh dua dinar ? Bukhari : 1241dan Muslim:942 [13] H.R.Bukhari :1265 dan Muslim:1206 [14] H.R.Bukhari:1315 [15] Tharhu at Tastrib syarh at Taqrib :3/289 At Tabriziy, maktabah syamilah [16] Syarh Mumti’:5/259, , Cet: Dar Ibnu Jauziy [17] Dishahihkan oleh syaikh al Baniy dalam Misykatul Mashabih:2915, maktabah syamilah [18] Nailul Authar:4/30, cet:Dar al Wafa’ [19] Dishahihkan oleh syaikh AlBaniy dalam Ahkamul Janaiz:16, maktabah syamilah [20] Syarh Mumti’:5/261, , Cet: Dar Ibnu Jauziy

Written by Albara

Jadilah yang terbaik di mata Allah,
Jadilah yang terburuk di mata sendiri,
Jadilah sederhana di mata manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Doa Untuk Masa Pandemi Covid 19

Doa Bangun Tidur Latin