Etika Menurut Pandangan Islam

Etika sering disamakan dengan ahlak dan moral, namun banyak juga para ahli yang membedakan keduanya. Tulisan karangan ilmiyah ini menitikberatkan kepada tingkah laku, perbuatan dan budi pekerti manusia yang dapat dilihat dari fenomena eksternal. Etika Qurani sekurang-kurangnya mempunyai lima ciri utama, yaitu: pertama, Rabbani; kedua, manusiawi; ketiga, universal; keempat, keseimbangan; dan kelima, realistik (Ilyas, 2002: 12).

Ciri universal adalah membawa misi rahmatan lil alamin di seluruh penjuru (Surat Al-Anbiya’/21: 107).

Nabi Muhammad saw merupakan wujud kongkrit figur keteladanan universal sebagai tolak ukur manusia dalam setiap aspek, bahkan sampai saat ini tidak ada seorang manusiapun yang menjatuhkan urutan pertama dalam kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, Nabi Muhammad adalah satu-satunya manusia yang dalam sejarah yang berhasil meraih kesuksesan luar biasa, baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawinya. Dan hamba-Ku yang selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnat maka Aku akan mencintainya (HR.

Cara beretika manusia kepada Allah ini harus ada penunjang perangkat elemen substansialnya agar semuanya mengandung nilai-nilai positif. Adapun cara merealisasikannya yaitu: Ikhlas, Hub, Khusu’, Tawakkal, Zikir, Syukur, Sabar, Tobat dan Do’a.

Ikhlas Secara spesifikتخليص القلب عن شائبة الشوب المكدر (menyelamatkan hati dari campuran yang dapat mengotorinya)[1].

Dalam hal ini yang dimaksud tawakkal adalah menyerahkan suatu urusan kepada allah[2]. Ar-Ragib al-Asfahani dalam Mufradat Alfazil-Quran menyatakan: at-Taukil artinya menyandarkan atas selainmu dan menjadikannya pengganti dirimu. Ungkapan wakala (mad wa) fulanun, kalau seseorang menyia-nyiakan urusannya dengan menyerahkan kepada yang lain.

Bahkan allah didalam al-qur’an menyuruh hambanya bertebar di muka bumi setelah mengerjakan ibadah kepada-Nya. Zikir dan Syukur dua istilah Qurani sebagai lawan dari kata ghaflah (lengah) dan kufr (ingkar).Zikir menurut Al-quran berarti menyebut atau mengingat Allah baik dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring (Surat Ali Imran/3: 191). Dan (ketahuilah) mengingat allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Sedangkan zikir jika disertai dengan hati yang ikhlas maka akan menghadirkan ketenangan dalam kehidupan kita.

Allah itu bersama orang-orang yang sabar (Surat Al-Baqarah/2: 153).Sabar ini merupakan bentuk relasi antara manusia dengan tuhannya. Permohonan yang ditujukan kepadaAllah memerlukan tata cara, seperti halnya permintaan kepada manusia tersendiri. Dalam Surat Al-Imran ayat 112 terkandung makna pergaulan antar sesama manusia: pertama, berbuat baik kepada kedua orang tua. Menurut etika dalam pandangan Qurani, anak-anak, pembantu, anggota keluarga lainnya (selain suami istri) tidak dibolehkan untuk memasuki kamar atau ruangan kedua orangtuanya tanpa ada izin dari keduanya, ini menunjukkan betapa disiplinnya etika dalam keluarga.

Etika ini sangat erat kaitannya dari pendidikan yang diajarkan oleh keluarganya kepada anak-anaknya maupun yang ada dalam lingkungan rumah tersebut, karena tanpa pendidikan manusia akan mengalami keterpurukan norma-norma dan nilai-nilai syariat.

Orang tua adalah salah satu yang kita taati selagi mereka tidak menyuruh kepada kemungkaran atau kemaksiatan. Perjuangan kedua orang tua untuk kita bisa dijadikan sebuah renungan, dimana mereka berani mempertaruhkan nyawanya demi terlahirkan seorang bayi yang dinanti-nantinya dari hari pertama sejak beliau mengandung, namun tak beretikalah kita jika mendurhakai keduanya?, surga haram untuknya dan nerakalah tempatnya[5]. Sungguh terdapat perbedaan krusial, karena ibu mengaharapkan keselamatan anaknya, sedangkan yang lain mengharapkan kematian keduanya.

Dari Abu Hurairah ra berkata: bahwa Rasulullah SAW memegang tangan Al-Hasan dan Al-Husain, lalu meletakkan kedua kaki keduanya di atas kaki beliau, lantas beliau bersabda, “naiklah.” Ini menunjukkan betapa potensialnya jika kita melihat gambaran dari keluarga Rasulullah SAW, yang dimana keberadaan antara kedua orang tuanya dan anak-anaknya tidak ada jarak.Semoga kita bisa melihat lebih banyak lagi hadits-hadits yang menceritakan prilaku antara anak kepada kedua orang tuanya. Kita diajarkan oleh islam untuk menata segala aspek kehidupan dengan sebaik-baik mungkin khususnya menata lingkungan alam makro, karena allah menyukai sesuatu yang indah dan manusia di suruh mengindahkan atau melestarikan alam makro ini dengan sebaik mungkin. Manusia yang kreativitasakan menata lingkungan ini dengan baik tanpa dia akan meminta imbalan terlebih dahulu, jika orang mempunyai sifat ini secara tidak langsung dia akan memulai sesuatu dari dirinya sendiri dan mengajak orang.

Saat ini kita sangat jauh dari memulai sesuatu itu dari diri kita sendiri,kita selalu di perbudak oleh orang yang tidak mempunyai jiwa menteladani, bukankah keberhasilan Raasulullah itu dengan adanya jiwa raga yang suka mempraktekkan atau memulai sesuatu dari dirinya dan setelah itu dia mengajak masyarakat, bukankah keberhasilan Rasulullah juga jika ditilik dari segi keindahan beliaulah orang yang paling menyukai keindahan dan beliaulah orang sangat menyukai kebersihan (HR.

Sesuatu yang amat disayangkan bahwa sesungguhnya sesama mukmin adalah bersaudara seperti dinyatakan dalam Al-Quran (QS 49:10) ternyata tidak diimplementasikan secara baik di dunia muslim. Kondisi ini diperparah lagi dengan rendahnya pemahaman akan nilai-nilai Islam secara praktis dalam soal perawatan lingkungan, sehingga tidak mengherankan, di dunia muslim kita menjumpai banyak sungai menjadi tempat pembuangan akhir sampah.

Jelas, perilaku semacam ini sangat bertentangan dengan semangat Islam sesungguhnya yang menyuruh berbuat kebaikan dan tidak membuat kerusakan (QS 7:35;56).Menghormati segala makhluk di bumi karena mereka juga ummat seperti halnya manusia (QS 6:38) dan sebagai khalifah manusia telah sanggup menerima amanah, sedangkan makhluk yang lain seperti langit, bumi, dan gunung-gunung enggan menerimanya (QS 33:72). Fenomena kerusakan lingkungan selama ini disinyalir karena selama ini muslim tidak mempedulikan ajaran lingkungan yang mereka miliki dan mematuhi ajaran universal tersebut sebagaimana tercantum dalam kitab suci dan sunah Nabi Muhammad SAW.

Kedua, perjanjian adalah persetujuan tertulis atau lisan yang dibuat oleh dua pihak atau lebih, syarat, persetujuan resmi antara dua negara atau lebih di bidang politik, keamanan, ekonomi dan sebagianya.Ketiga, transaksi adalah persetujuan jual beli antara dua orang saksi laki-laki, jika tidak ada dua orang laki-laki maka boleh juga disaksikan oleh satu orang laki-laki dan dua orang perempuan.Keempat, pembatasan waktu akhir penagihan hutang.Kelima, jika si-pencatat tidak bisa menulis atau mudah lupa maka boleh diwakilkan oleh walinya.Keenam, jika transaksi mengalami sesuatu yang bersifat darurat seperti berada dalam perjalanan, maka boleh dengan agunan (jaminan, garansi, tanggungan).Ketujuh, kedua belah pihak harus mempunyai sifat jujur, jika seseorang berdusta ia ditulis disisi Allah sebagai pendusta (Muttafaq Alaih). Dalam hal ini al-qur’an sangat menitik beratkan dengan perpaduannya sifat-sifat nabi Muhammad saw yaitu jujur, amanah, cerdas dan meyampaikan yang hak walaupun itu pahit, dari adanya sifat-sifat di atas maka secara otomatisakan menghilangkan sifat-sifat kebohongan, kezaliman, pengkhianatan dari kedua belah pihak dan akan menghadirkan kejujuran, keotentikan serta tranparansi dalam bermuamalah. Maka dalam pendidikan telah kita kenal metode praktek dan teladan dalam hal ini diungkap bagaimana pelaksanaan sesuatu untuk ditiru, terutama bila hal itu dilaksanakan oleh orang yang mempunyai kedudukan tertinggi serta para penyampai ilmu pengetahuan dan lain sebagainya. Sekarang ini justru telah hilangnya harga diri baik itu laki-laki maupun perempuan, padahal Sunnah nabi telah menyatakan batas aurat laki-laki antara pusat dan lutut sedangkan perempuan seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya.

Barangsiapa meniru suatu kaum maka dia akan termasuk pada golongan tersebut (Hadits).Tetapi nasihat ini sirna seketika tanpa diketahui oleh kebanyakan kaum laki-laki dan kaum perempuan, seorang laki-laki bangga dengan memakai anting-anting dan sebagainya dan perempuan bangga dengan memakai pakaian yang tidak menutup auratnya, sudah bergantian peraturan batas aurat di antara keduanya. Cara pemeliharaan kehormatan diri ialah dengan tidak menampakkan lekuk-lekuk tubuh kepada orang lalin.Pakaian yang tipis dan sempit ini dipandang oleh beberapa pakar ilmuwan kita seperti tidak memakai pakaian, karena mereka tidak lebih hanya untuk mempertontonkan lekuk tubuhnya kepada khalayak.Dengan begitu, harga manusia seperti harga hewan yang suka memamerkan kegemukan tubuhnya dan untuk memperjualbelikan harga dirinya.

Dalam sunnah shahih telah disebutkan larangan memakai pakaian yang ketatbagi kaum wanita. Oleh karena itu islam sangat memperhatikan undang-undang yang mengatur hubungan antara dua jenis, laki-laki dan wanita.

Agar bagaimana dewasa ini kita mampu meletakkan norma-norma dan nilai-nilai kepahlawanan dalam bingkai perjuangan untuk keluar dari keterbelakangan multidimensi: Kesempurnaan manusia, menurut Ibnu Maskawih: terletak pada dua pokok, pertama, potensi berpengetahuan yang dengannya dia aktualkan sehingga dapat meraih aneka ilmu dan ma’rifah.

ETIKA, MORAL DAN AKHLAK DALAM ISLAM

Terutama pada saat ini banyak orang beranggapan bahwa harta adalah prioritas utama Apabila sudah terpedaya pada hal-hal yang negatif, akhlak remaja mudah rusak sehingga menimbulkan berbagai masalah. Padahal pemuda adalah generasi penerus bangsa, namun pada kenyatanya sebagian besar remaja pada saat ini sudah terjerumus dalam hal negatif, seperti seks bebas, narkoba, dan lain-lain. Etika adalah sebuah tatanan perilaku berdasarkan suatu sistem tata nilai suatu masyarakat tertentu, Etika lebih banyak dikaitkan dengan ilmu atau filsafat, karena itu yang menjadi standar baik dan buruk itu adalah akal manusia. Moral berasal dari bahasa Latin mores yang berarti adat kebiasaan. Moral selalu dikaitkan dengan ajaran baik buruk yang diterima umum atau masyarakat.

Karena itu adat istiadat masyarakat menjadi standar dalam menentukan baik dan buruknya suatu perbuatan. Akhlak berasal dari kata “khuluq” yang artinya perang atau tabiat. Dan dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata akhlak di artikan sebagai budi pekerti atau kelakuan.

Inilah yang menjadi misi diutusnya Rasul sebagaimana disabdakannya :“ Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.”(Hadits riwayat Ahmad). Apabila aqidah telah mendorong pelaksanaan syari’at akan lahir akhlak yang baik, atau dengan kata lain akhlak merupakan perilaku yang tampak apabila syari’at Islam telah dilaksanakan berdasarkan aqidah. a) Sabar, yaitu prilaku seseorang terhadap dirinya sendiri sebagai hasil dari pengendalian nafsu dan penerimaan terhadap apa yang menimpanya.Sabar diungkapkan ketika melaksanakan perintah, menjauhi larangan dan ketika ditimpa musibah.

b) Syukur, yaitu sikap berterima kasih atas pemberian nikmat Allah yang tidak bisa terhitung banyaknya. c) Tawaduk, yaitu rendah hati, selalu menghargai siapa saja yang dihadapinya, orang tua, muda, kaya atau miskin. Berbuat baik kepada ibu bapak dibuktikan dalam bentuk-bentuk perbuatan antara lain : menyayangi dan mencintai ibu bapak sebagai bentuk terima kasih dengan cara bertutur kata sopan dan lemah lembut, mentaati perintah, meringankan beban, serta menyantuni mereka jika sudah tua dan tidak mampu lagi berusaha. Melalui komunikasi seperti itu pula dilakukan pendidikan dalam keluarga, yaitu menanamkan nilai-nilai moral kepada anak-anak sebagai landasan bagi pendidikan yang akan mereka terima pada masa-masa selanjutnya. Etika adalah suatu ajaran yang berbicara tentang baik dan buruknya yang menjadi ukuran baik buruknya atau dengan istilah lain ajaran tenatang kebaikan dan keburukan, yang menyangkut peri kehidupan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Dalam kamus umum bahasa Indonesia, etika diartikan ilmu pengetahuan tentang azaz-azaz akhlak (moral).

Dari pengertian kebahasaan ini terlihat bahwa etika berhubungan dengan upaya menentukan tingkah laku manusia. Sebagai cabang pemikiran filsafat, etika bisa dibedakan manjadi dua: obyektivisme dan subyektivisme.

Suatu tindakan disebut baik, kata faham ini, bukan karena kita senang melakukannya, atau karena sejalan dengan kehendak masyarakat, melainkan semata keputusan rasionalisme universal yang mendesak kita untuk berbuat begitu. Berpandangan bahwa suatu tindakan disebut baik manakala sejalan dengan kehendak atau pertimbangan subyek tertentu. Sementa etika sendiri menegaskan bahwa suatu perbuatan boleh atau tidak. Dengan kata lain etika adalah aturan atau pola tingkah laku yang dihasilkan oleh akal manusia.

Dengan etika seseorang atau kelompok dapat menegemukakan penilaian tentang perilaku manusia Etika dapat memberikan prospek untuk mengatasi kesulitan moral yang kita hadapi sekarang. Etika dapat menjadi prinsip yang mendasar bagi mahasiswa dalam menjalankan aktivitas kemahasiswaanya.

a) Hormati perasaan orang lain, tidak mencoba menghina atau menilai mereka cacat.

– Jangan anda membebani tamu untuk membantumu, karena hal ini bertentangan dengan kewibawaan. – Jangan kamu menampakkan kejemuan terhadap tamumu, tetapi tampakkanlah kegembiraan dengan kahadirannya, bermuka manis dan berbicara ramah.

– Hendaklah segera menghidangkan makanan untuk tamu, karena yang demikian itu berarti menghormatinya. – Jangan tidak hadir sekalipun karena sedang berpuasa, tetapi hadirlah pada waktunya.

– Hendaknya pulang dengan hati lapang dan memaafkan kekurang apa saja yang terjadi pada tuan rumah. a. Berjalan dengan sikap wajar dan tawadlu, tidak berlagak sombong di saat berjalan atau mengangkat kepala karena sombong atau mengalihkan wajah dari orang lain karena takabbur.

c. Disunnahkan bagi kedua mempelai melakukan shalat dua raka`at bersama, karena hal tersebut dinukil dari kaum salaf. – Mendo`akan semoga cepat sembuh, dibelaskasihi Allah, selamat dan disehatkan.

Di dalam kamus umum bahasa Indonesia dikatan bahwa moral adalah pennetuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. Selanjutnya moral dalam arti istilah adalah suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik atau buruk. Berdasarkan kutipan tersebut diatas, dapat dipahami bahwa moral adalah istilah yang digunakan untuk memberikan batasan terhadap aktifitas manusia dengan nilai (ketentuan) baik atau buruk, benar atau salah. Jika pengertian etika dan moral tersebut dihubungkan satu dengan lainnya, kita dapat mengetakan bahwa antara etika dan moral memiki objek yang sama, yaitu sama-sama membahas tentang perbuatan manusia selanjutnya ditentukan posisinya apakah baik atau buruk.

Namun demikian dalam beberapa hal antara etika dan moral memiliki perbedaan. Pertama, kalau dalam pembicaraan etika, untuk menentukan nilai perbuatan manusia baik atau buruk menggunakan tolak ukur akal pikiran atau rasio, sedangkan moral tolak ukurnya yang digunakan adalah norma-norma yang tumbuh dan berkembang dan berlangsung di masyarakat. Etika dan moral sama artinya tetapi dalam pemakaian sehari-hari ada sedikit perbedaan. Kesadaran moral erta pula hubungannya dengan hati nurani yang dalam bahasa asing disebut conscience, conscientia, gewissen, geweten, dan bahasa arab disebut dengan qalb, fu’ad.

Berdasarkan pada uraian diatas, dapat sampai pada suatu kesimpulan, bahwa moral lebih mengacu kepada suatu nilai atau system hidup yang dilaksanakan atau diberlakukan oleh masyarakat. Nilai atau sitem hidup tersebut diyakini oleh masyarakat sebagai yang akan memberikan harapan munculnya kebahagiaan dan ketentraman.

Nilai-nilai tersebut ada yang berkaitan dengan perasaan wajib, rasional, berlaku umum dan kebebasan. Jika nilai-nilai tersebut telah mendarah daging dalam diri seseorang, maka akan membentuk kesadaran moralnya sendiri.

Orang yang demikian akan dengan mudah dapat melakukan suatu perbuatan tanpa harus ada dorongan atau paksaan dari luar. Dari sudut kebahasaan, akhlak berasal dari bahasa arab, yaitu isim mashdar (bentuk infinitive) dari kata al-akhlaqa, yukhliqu, ikhlaqan, sesuai timbangan (wazan) tsulasi majid af’ala, yuf’ilu if’alan yang berarti al-sajiyah (perangai), at-thobi’ah (kelakuan, tabiat, watak dasar), al-adat (kebiasaan, kelaziman), al-maru’ah (peradaban yang baik) dan al-din (agama). Namun akar kata akhlak dari akhlaqa sebagai mana tersebut diatas tampaknya kurang pas, sebab isim masdar dari kata akhlaqa bukan akhlak, tetapi ikhlak. Untuk menjelaskan pengertian akhlak dari segi istilah, kita dapat merujuk kepada berbagai pendapat para pakar di bidang ini. § Sabar, yaitu prilaku seseorang terhadap dirinya sendiri sebagai hasil daripengendalian nafsu dan penerimaan terhadap apa yang menimpanya.Sabar diungkapkan ketika melaksanakan perintah, menjauhi larangan dan ketika ditimpa musibah. § Syukur, yaitu sikap berterima kasih atas pemberian nikmat Allah yang tidak bisa terhitung banyaknya. § Tawaduk, yaitu rendah hati, selalu menghargai siapa saja yang dihadapinya, orang tua, muda, kaya atau miskin. Berbuat baik kepada ibu bapak dibuktikan dalam bentuk-bentuk perbuatan antara lain : · Menyantuni mereka jika sudah tua dan tidak mampu lagi berusaha. Lawan kata husnuzan adalah suuzan yakni berprasangka buruk terhadap seseorang . – Meyakini dengan sepenuh hati bahwa semua perintah Allah dan Rasul Nya Adalah untuk kebaikan manusia. – Meyakini dengan sepenuh hati bahwa semua larangan agama pasti berakibat buruk.

Husnuzan kepada sesama manusia berarti menaruh kepercayaan bahwa dia telah berbuat suatu kebaikan. Ta’awun berarti tolong menolong, gotong royong, bantu membantu dengan sesama manusia. Iri berarti merasa kurang senang atau cemburu melihat orang lain beruntung.. Dendam yaitu keinginan keras yang terkandung dalam hati untuk membalas kejahatan.

seseorang yang belum tentu benar kepada orang lain dengan maksud Istilah moral biasanya dipergunakan untuk menentukan batas-batas suatu perbuatan, kelakuan, sifat dan perangkai dinyatakan benar, salah, baik, buruk,layak atau tidak layak,patut maupun tidak patut.

– Sinaga, Hasanudin dan Zaharuddin, Pengatar Studi Akhlak, Jakarta : PT Raja Grafmdo Persada, 2004 Bandung : CV Diponegoro, 1988 (artikel ini disadur dari persentasi pada mata kuliah akhlak tasawuf)

Pentingnya Etika Bergaul dalam Islam

Salah satu buktinya adalah perihal yang digambarkan dalam al-Qur’an. Permusuhan bisa terjadi ketika perbuatan keji, kejelekan, dan keburukan dilakukan dalam bergaul. Dua dalil di atas menunjukkan pentingnya etika bagi manusia. “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut, terhadap mereka.

Seandainya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.

Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Pengertian akhlak menurut Imam Al-Qurthubi: “Akhlaq adalah sifat-sifat seseorang, sehingga dia dapat berhubungan dengan orang lain. Sedangkan secara rinci adalah memaafkan, berlapang dada, dermawan, sabar, menahan penderitaan, berkasih sayang, memenuhi kebutuhan hidup orang lain, mencintai, bersikap lemah lembut dan sejenis itu. “ الذين ينفقون في السراء والضراء والكاظمين الغيظ والعافين عن الناس والله يحب المحسنين ”

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat timbangannya (di Hari Kiamat) dibanding Akhlak mulia” [10]

Dia menjawab, “Kebaikan adalah akhlak yang mulia, dan dosa adalah sesuatu yang bergejolak dalam dadamu dan engkau merasa tidak senang apabila orang lain mengetahuinya”. Adab kepada diri sendiri, misalnya bagaimana seseorang menyucikan dirinya, baik secara zahir maupun batin.

Atau jika ditinjau dari dari keadaannya, adab dan akhlak mulia yang diatur oleh Islam juga bisa ditemukan ketika makan, minum, berkendaraan, berbicara, tidur, mandi, menuntut ilmu, berpakaian, dan seterusnya, yang tak satu pun keadaan di dalam kehidupan keseharian seorang muslim kecuali telah diatur bagaimana adab dan akhlaknya, mulai dari masalah sebesar urusan pemerintahan hingga sekecil adab buang air. Berikut ini macam-macam sifat yang wajib dimiliki oleh setiap orang Islam:

Tawadhu’ juga berarti mau menerima kebenaran, bagaimanapun itu; Khauf (takut) pada adzab Allah; Syafaqah (simpati) dengan ikhlash dan antusias membantu menghilangkan gangguan/kesulitan/bahaya yang menimpa orang lain;[15] Zuhud (tidak tertarik pada kelebihan dunia).

[16] Qana’ah (merasa ridha dengan bagian yang Allah berikan) meskipun dengan keadaan yang pas-pasan; Suka berinfaq (membagikan) harta yang lebih dari apa yang dia butuhkan; Nashih (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kerusakan karena suka melihat orang lain juga mendapatkan apa yang dia suka untuk dirinya) Kasihan dan khawatir dengan orang yang bermaksiat, bukan menghina atau melaknat mereka; Penyayang pada semua makhluk Allah; Amar ma’ruf nahi munkar semampunya dalam kondisi diri dan hartanya tidak terancam; Berlomba-lomba dalam kebaikan;[17] Berkomitmen untuk ibadah di setiap waktu; Mengajarkan ilmu/hal-hal baik; Mengajak pada hidayah dengan lembut[14] Dapat diam dari perkataan yang tidak berguna;[17] Tu’adah (tidak tergesa-gesa) dengan menunggu/memperhatikan sampai jelas mana yang baik dan mana yang jelek; Wiqar (menjaga pandangan, nada bicara dan lirikan); sakinah (Kedamaian pikiran);[14] Husnul Khuluq (mudah beradaptasi karena mempunyai tabiat baik) dengan cara cocok dengan semua orang selama bukan bermaksiat; wasi’u shadr (lapang dada dan bijaksana); Layyin (luwes) Tawadhu’ dengan gesture/gerak tubuh kepada orang beriman. Agar di dalam interaksi sosial tersebut tidak tercipta adanya gesekan-gesekan yang bisa berujung pada problematika sosial, seperti kekerasan, kerusuhan, kesenjangan, dan lain-lain, maka penting bagi seseorang untuk mengetahui adab dan akhlak yang diajarkan oleh Islam di dalam bermasyarakat. Berikut ini beberapa contoh bagaimana beradab dan berakhlak mulia di dalam bermasyarakat:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya” (HR. “Sebaik-baik teman di sisi Allah Ta’ala adalah yang paling berbuat baik kepada temannya” (HR. “Barang siapa yang membantu seorang muslim dan menghilangkan kesulitan yang ada pada dirinya dari kesuliatan-kesulitan dunia, maka Allah akan hilangkan baginya kesuliatan dari kesulitan-kesulitan pada hari kiamat kelak” (HR.

Seorang muslim tidak diajarkan untuk menyandarkan hanya kepada usahanya dirinya sendiri tetapi juga harus diiringi dengan doa. “ “Allahumma kamaa hassanta khalqi, fahassin khuluuqi (Ya Allah, sebagaimana Engkau telah membaguskan tubuhku, maka baguskanlah akhlakku)”[18] ” ^ “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” QS. Al-Ahzab: 21, http://quran.com/33/21 ^ Allah ta’ala ketika menyebutkan tentang akhlak rasulullah ﷺ “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

QS.Al-Isra: 9; http://quran.com/68/4 ^ Makarimul Akhlaq; Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ^ Perkataan Imam Al-Qurthubi yang dinukil oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam kitabnya Fathul Bari: 1/456. Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad, dan Ad-Darimi ^ “Janganlah sekali-kali engkau meremehkan perbuatan baik sedikitpun, walaupun sekadar menemui saudaramu dengan wajah yang ceria” (Muslim (2626) dan At-Tirmidzi (1833) a b c Babsil, Muhammad bin Salim bin Said. Ish’adhu al-Rafiq wa Bughyatu Tashdiq: Syarh Sullam al-Taufiq (Surabaya: al-Hidayah, tt) jilid 2 halaman 26-29.

Etika Bisnis Islam: Pengertian, Prinsip dan Tujuan

Secara etimologi, etika (ethics) berasal dari bahasa Yunani yakni ‘ethikos’ yang memiliki berbagai arti, yaitu: pertama, sebagai analisis konsep-konsep terhadap apa yang harus, mesti, tugas, aturan-aturan moral, benar, salah, wajib, tanggung jawab, dan lain-lain. Selain itu, etika juga memiliki pengertian yakni sebagai aktualisasi kehidupan yang baik secara moral.

Pertama, etika digunakan dalam pengertian nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan. Ketiga, K. Bertens mengungkapkan bahwa etika merupakan ilmu tentang baik buruknya suatu perilaku. Sementara itu, Robert C. Solomon mengartikan bahwa etika tidak selalu mengenai aturan-aturan atau ketaatan, melainkan lebih ke menunjuk kepada bentuk karakter atau sifat-sifat individu seperti kebajikan, kasih sayang, kemurahan hati, dan sebagainya. Tentu saja yang semuanya itu tidak diatur dalam hukum secara tertulis.

Buka Bersama Diskon Buku THR Bagi-Bagi/Sedekah Lainnya Isi alasan lain KIRIM keyboard_arrow_leftPrevious Nextkeyboard_arrow_right FormCraft – WordPress form builder Hal ini karena etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian tindakan sehari-hari. Pada akhirnya, etika termasuk yang terdapat di dalam etika bisnis Islam akan membantu manusia untuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu dilakukan dan yang perlu dipahami bersama bahwa etika dapat diterapkan di dalam segala aspek atau sisi kehidupan manusia. Dengan demikian, etika dibagi menjadi berbagai bagian sesuai aspek kehidupan manusia.

Sementara itu, secara etimologi bisnis memiliki pengertian keadaan dimana seseorang atau sekelompok orang sibuk melakukan pekerjaan yang menghasilkan keuntungan. Kata bisnis sendiri sebenarnya memiliki tiga penggunaan, tergantung bagaimana skupnya: (1) badan usaha yaitu kesatuan yuridis atau hukum, (2) teknis, dan (3) ekonomis yang mencari laba.

Bisnis di dalam Al-Qur’an biasanya yang digunakan adalah al-tijarah, al-bai’, tadayantum, dan isytara. Menurut Ar-Raghib Al-Asfahani di dalam al-mufradat fi gharib Al-Qur’an, al-tijarah bermakna mengelola harta benda untuk mencari keuntungan. Sementara itu, secara terminologis terdapat beberapa pengertian mengenai bisnis terutama di dalam etika bisnis islam yakni suatu kegiatan usaha individu yang terorganisasi untuk menghasilkan laba dan menjual barang atau jasa guna mendapatkan keuntungan dan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Ayat ini menjelaskan bagaimana kedudukan Islam sebagai agama samawi yang diturunkan oleh Allah kepada manusia.

Etika bisnis Islam juga memelajari bagaimana berperilaku penuh tanggung jawab dan modal. Dengan demikian, etika bisnis Islam memiliki posisi pengertian yang hakikatnya merupakan usaha dari manusia untuk mencari keridaan Allah SWT.

Meski demikian, bisnis did alam etika bisnis Islam ini tidak bertujuan jangka pendek dan semata-mata untuk individual dan mencari keuntungan semata, tetapi jangka panjang yaitu antara dirinya dengan Allah SWT. Menurut Ali Hasan, Pengertian etika bisnis Islam merupakan akhlak dalam menjalankan bisnis sesuai dengan nilai-nilai Islam, sehingga dalam melaksanakan bisnisnya tidak perlu ada kekhawatiran, sebab sudah diyakini sebagai sesuatu yang baik dan benar. Definisi etika bisnis Islam adalah nilai-nilai etika Islam yang secara khusus mengenai aktivitas bisnis yang terdiri dari enam prinsip utama, yakni tentang kebenaran, kepercayaan, kejujuran, ketulusan, pengetahuan, dan keadilan. Kebebasan di dalam prinsip etika bisnis Islam merupakan bagian terpenting yang seharusnya dilakukan tanpa merugikan kepentingan kolektif. Kehendak bebas ini adalah suatu kecenderungan manusia untuk terus-menerus memenuhi kebutuhan pribadinya yang tak terbatas dan dikendalikan dengan adanya kewajiban setiap individu terhadap masyarakat melalui infak, zakat, dan sedekah. Akan tetapi dalam upaya menetapkan keuntungan tersebut, etika bisnis Islam mengatur dan sangat menjaga kegiatan yang preventif terhadap kemungkinan adanya kerugian dari salah satu pihak yang melakukan transaksi.

Melakukan etika bisnis Islam tentu memiliki tujuan yang memang sudah diatur dan ditentukan dengan sebaik mungkin. Kode etik ini nantinya akan bisa untuk mengatur, mengembangkan, dan mencanangkan metode berbisnis dalam kerangka ajaran agama. Kode etik ini juga menjadi simbol untuk melindungi pelaku bisnis dari risiko.

Kode ini dapat menjadi dasar hukum dalam menetapkan tanggung jawab para pelaku bisnis terutama bagi diri mereka sendiri, antara komunitas bisnis, masyarakat, dan di atas segalanya adalah pertanggungjawabannya oleh Allah SWT. Kode etik dapat memberi kontribusi dalam penyelesaian banyak persoalan yang terjadi antara sesama pelaku bisnis dan masyarakat tempat mereka bekerja. Kepuasan konsumen menjadi hal yang diutamakan karena di dalamnya diatur agar tidak egois, Riba diharamkan baik bagi diri sendiri maupun orang lain dan diatur dalam Al-Baqarah: 275. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba,” QS.

Di dalam ayat tersebut, terdapat larangan mengambil hak orang lain atau batil saat menjalankan bisnis maupun perniagaan.

Penimbunan itu juga biasanya menyebabkan kelangkaan dan harganya melonjak drastis sehingga harga pasar menjadi rusak. Kegiatan memborong atau menimbun kebutuhan terutama kebutuhan pokok dengan cara memonopoli ini mengakibatkan terjadinya kelangkaan yang memunculkan kemudharatan bagi banyak orang sehingga sangat dilarang oleh Allah SWT. Mengkhianati amanah yang dipercayakan antarpelaku bisnis akan merusak seluruh urusan, termasuk ketertiban umat, kehidupan masyarakat, dan sebagainya.

Karena segenap peraturan yang menyangkut kepentingan umat tidak boleh dikhianati dan wajib ditaati sebagaimana mestinya.

ETIKA DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT ISLAM

Dengan penggunaan nalar secara optimal, manusia menciptakan peradaban dan kemodernan yang mencengangkan. Namun, walaupun modernitas itu bisa digapai oleh manusia, bukan berarti etika atau moral tidak serta merta diabaikan begitu saja karena ia mempunyai nilai yang signifikan dalam kehidupan. Sokrates menulis, “kita sedang membicarakan masalah yang tidak kecil, yakni mengenai bagaimana kita harus hidup”.1 Itu artinya kajian etika bukan persoalan sederhana, kajian etika perlu mendapat perhatian serius bagi seluruh manusia sebagai makhluk yang bernalar (human being) untuk menggapai idealisme kehidupan itu sendiri.

Ilmu pengetahuan merupakan upaya khusus manusia untuk menyingkap realitas supaya memungkinkan manusia berkomunikasi satu sama lain dengan membangun dialog dengan mengakui yang lain dan meningkatkan harkat kemanusiaan yang senantiasa harus dijunjung tinggi.

Untuk menentukan bahwa ilmu itu bebas nilai atau tidak, maka diperlukan sekurang-kurangnya tiga faktor sebagai indikator. Ketiga, tidak luputnya penelitian ilmiah dari pertimbangan etis yang selalu dituding menghambat kemajuan ilmu pengetahuan. Indikator pertama dan kedua memperlihatkan upaya ilmuwan untuk menjaga objektivitas ilmiah suatu ilmu pengetahuan, sedangkan indikator ketiga ingin menunjukkan adanya faktor lain yang tidak dapat dihindarkan dari perkembangan ilmu pengetahuan, yaitu pertimbangan etis.2

Konsep Etika dalam Perspektif al Quran: Perbandingan Antara Etika Islam dengan Etika Sekuler

Dalam mengkaji al Qura’an dan Hadith, sebagai seorang muslim, wajar bila penulis “memulainya” dengan berbekal “iman” daripada sikap skeptis. Kajian etika sebagai salah satu bagian dari cabang filsafat, bukanlah suatu tema yang baru. Etika dalam dunia Islam telah disinggung oleh beberapa tokoh, salah satu diantaranya adalah Maskawaih dan Mawardi.

Serta beberapa tokoh Islam lain yang secara khusus menekankan kata “akhlaq” sebagai sinonim dari kata “etika.” Namun istilah apapun yang digunakan, kajian mereka bersangkut paut dengan perbuatan baik dan buruk dalam perspektif Islam. Dari sikap kritis akhirnya lahirlah etika-etika baru (diluar etika agama) yang mencoba menawarkan diri sebagai penyelemat peradaban. Fungsinya, untuk membantu ulama dalam “menghukumi” suatu perbuatan tersebut melanggar ajaran agama atau tidak.

Dengan berlandas etika pula, menjadikan agamawan tidak serta merta bebas melakukan reinterpretasi terhadap perintah dan hukum yang termuat dalam wahyu. Salah satu persoalan moralitas yang bersifat baru dan tidak disebutkan langsung dalam wahyu adalah masalah kloning manusia. Dalam keadaan seperti itu, etika agama seolah-olah posisinya terancam bahkan dipinggirkan hingga diabaikan karena dinilai tidak lagi memberikan solusi. Etika agama dipandang hanya memberikan janji palsu, ilusi, dan dogma-gogma tanpa diperbolehkan untuk mengkritisi. Bahkan etika agama dituduh sebagai penyebab perilaku masyarakat (umat beragama) menjadi intoleran, anarkis, dan bodoh dalam arti kering ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, untuk menangkal sikap skepitisme tersebut diperlukan pemahaman baru terhadap teks-teks Wahyu.

Di mana al Quran sebagai salah satu sumber agama Islam, yang diklaim sabagai pedoman hidup seluruh umat manusia harus dibuktikan kebenarannya. Dari pemaparan tersebut, maka penulis mencoba untuk menelusuri kandungan-kandungan etika yang ada di dalam al Quran. Kemudian menganilisnya, sehingga ditemukan bagaimana nilai-nilai etika itu bisa dimanfaatkan dan relevan untuk digunakan dalam kehidupan sekarang ini. Kata tersebut juga seakar (serumpun) dengan ethical artinya etis, pantas, layak, beradab, dan susila. Adapun kata moral berarti ajaran tentang perbuatan, kewajiban, dan sikap baik-buruk yang disepakati secara umum (etis). Serta bagaimana manusia dapat mengambil sikap bertanggun jawab yang dihadapkan dengan berbagai ajaran moral. Misalnya, orang yang melakukan bunuh diri dalam tindakan terorisme, bisa saja satu sisi dinilai sebagai perbuatan heroik serta mengharukan bagi masyarakat. Ini artinya kehidupan alaminya, seperti nafsu, kecenderungan, cita-cita, dan sebagianya seolah-olah disalurkan pada suatu “bentuk” tertentu.

Bila seseorang melanggarnya maka akan dikenai sanksi, tergantung jenis moral apa yang lebih kuat dominasinya dalam masyarakat.Misalnya, orang yang melakukan bunuh diri dalam tindakan terorisme, bisa saja satu sisi dinilai sebagai perbuatan heroik serta mengharukan bagi masyarakat. Menurut De Vos, perbedaan antara etika dengan kesusialaan (moral) ditinjau dari segi sejarah terdapat dua persoalan. Di sinilah, peran agama bisa tampil memberikan solusi yang secara detail akan dijelaskan pada pembahasan selanjutnya. Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan pengertian etika ialah sebagai ilmu pengetahuan tentang perilaku baik-buruk atau wajib-terlarang yang didasarkan pada arahan otoritas, perilaku manusia pada umumnya, kebiasaan, aturan, pedoman, keyakinan, dan keteguhan (kesadaran) manusia dalam memutukan sikap atau melakukan tindakan.

Nilai kemanusiaan pertama yang dimiliki oleh seluruh umat manusia sebagai makhluk termulia seperti digambarkan dalam Q.S al-Israa’ [17]:70: Semua manusia baik itu islam maupun nonislam dan berbangsa apapun adalah mulia dibandingkan dengan makhluk lain. Akan tetapi secara tersirat banyak ayat-ayat al Quran yang menyinggung tentang etika, yaitu terkait dengan perbuatan baik dan buruk. Pada akhirnya, kata salihat dapat diartikan “iman” yang dinyatakan seutuhnya dalam bentuk perbuatan nyata.

Pada akhirnya, kata salihat dapat diartikan “iman” yang dinyatakan seutuhnya dalam bentuk perbuatan nyata. Di mana ras takut itu diwujudkan dengan memenuhi segala kewajiban, baik yang bersifat sosial (kemanusiaan) maupun religius (keimanan) bisa dikatagorikan birr. Serta juga bisa dimaknai dengan perilaku Fir’aun dalam Surah al Qashash ([28]: 4) sebagai penindas bani Israel tanpa alasan yang dibenarkan (sewenang-wenang). Pada awal perkembangan pemahaman terhadap wahyu, bahwa seluruh kandungan Quran membentuk etika Islam yang melibatkan kehidupan moral, keagamaan, dan sosial muslim.

Sebagaimana menurut Imam Ahmad meriwayatakan dari Abu Hurairah, ia mengatakan bahwa Rasul bersabda yang artinya:

Oleh karena itu, semua yang diperbuat setiap individu harusnya diniatkan untuk mencarai Ridha Allah SWT.

Sebaliknya, dalam meninggalkan keharaman (larangan) untuk tidak melakukan keburukan itu juga semata-mata untukk Allah. Lebih lanjut, nilai-nilai luhur (kebaikan) yang tercakup dalam etika Islam sebagai sifat terpuji (mahmudah) antar lain: berlaku jujur (al-amanah), berbuat baik kepada kedua orang tua (birrul waalidaini), memelihara kesucian diri (al-Iffah), kasih sayang (ar-Rahmah), dan al-barr, berlaku hemat (al-iqtishad) menerima apa adanya, dan sederhana (qona’ah dan zuhud), perlakuan baik (ihsan), kebenaran (shiddiq), pemaaf (‘afw), keadilan (‘adl), keberanian (syaja’ah), malu (haya’), kesabaran (shabr), berterima kasih (syukur), penyantun (hilm), rasa sepenanggungan (muwasat), kuat (quwwah), dan sebagainya.

Dan dalam surah as Syu’ara ayat 137 terdapat kata “akhlaaq” yang artinya adat kebiasaan. Dan dalam surah as Syu’ara ayat 137 terdapat kata “akhlaaq” yang artinya adat kebiasaan.

Oleh karena itu, wajar bila beliau sangat mudah dekat dengan orang lain, disegani, berkasih sayah, komitmen, berwibawa, bermusyawarah, dan tidak pernah membuat sakit hati.

Oleh karena itu, wajar bila beliau sangat mudah dekat dengan orang lain, disegani, berkasih sayah, komitmen, berwibawa, bermusyawarah, dan tidak pernah membuat sakit hati.

Hal ini karena, dengan beretika islam yang utuh maka bisa terwujudlah suatu perdamaian hakiki antar seluruh umat manusia. yakni, manusia yang memiliki moralitas baik pada Allah, rasul, orang lain, dan terhadap dirinya sendiri serta alam sekitarnya .

Yakni, kemampuan dalam berlogika, berargumen, berintuisi moral, dan tidak bersumber dari wahyu atau supranatural. Manusia sebelum mempertimbangan (akhirat, iman) harus mengutamakan akalnya terlebih dahulu untuk menentukan perbuatan itu baik atau buruk.

Dengan kata lain, etika sekuler lebih mengunggulkan dan mengutamakan aspek-aspek kemanusiaan, terhadap perbuatan buruk yang sudah dilakukan.

Judi Ada yang mendukung dan ada yang menolak Dianggap soal biasa, bagian dari kehidupan bebas Dosa besar Hidup mewah berlebihan Dianggap sebagai hak dan permasalahan individu Kebebasan individu, tergantung pada kemampuan Hukumnya mubazir. Adapun etika sekuler itu bersifat relatif, tergantung pada prespektif apa yang digunakan untuk mengritisi moral. Oleh karena itu orang yang beragama tidak akan menjahui dunia, tetapi memanfaataknnya untuk berbuat kebajikan sebanyak mungkin, sesuai dengan ajaran agamanya.

Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Achmad bahwa etika merupakan ilmu pengetahuan rohaniah, normatif, dan teologis. Ia bukan lagi ilmu pengetahuan yang bisa diukur secara matematis, sehingga tak dapat diramalkan dengan pasti. Ia merupakan pengetahuan tentang “seni hidup secara baik.” Dengan kata lain, sebuah perbuatan harusnya “diteliti” tidak hanya pada sudut pandang kehendak atau kesengajaan manusia.

Komponen yang sulit untuk dipahami dengan akal itu adalah adanya faktor hidayah dan mekanisme ghaib (peran takdir) dari Allah SWT.

Klaim ini bukan tanpa alasan sama sekali, dalam Islam secara rinci mengatur seluruh kehidupan manusia. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Janganlah sekali-kali seseorang dari kalian memegang kemaluannya dengan tangan kanannya ketika kencing, jangan pula membersihkan dari buang hajat dengan tangan kanannya, dan jangan bernafas di dalam bejana.” Muttafaq Alaih, dan ini lafazh Muslim. merupakan pembawaan insani, sehingga tidak lepas dari sumber dari “Yang Maha Awal.” Oleh karena itu, berbicara etika pasti menyinggung “Sumber Pertamanya.” Di mana Ia (Allah) yang berada di belakang realitas dan dunia metafisika, sehingga tidak mungkin membahas-Nya melalui akal. Dengan kemauan dan intuisi yang dibimbing wahyu Ilahi serta melalui jalan Tasawuf, manusia bisa mendekati-Nya.

Dengan kemauan dan intuisi yang dibimbing wahyu Ilahi serta melalui jalan Tasawuf, manusia bisa mendekati-Nya.

Bahkan, masyarakat negeri ini cukup banyak yang melanggengkan “kenistaan” tersebut membawa nilai-nilai luhur, yakni demi mempertahankan kebaikan. Di sinilah menurut penuiis, telah terjadi ketidak sinkronan antara perkataan dan perbuataan saat komunikasi pada wilayah perseorangan (kelompoknya sendiri) dengan wilayah “publik.” Pada akhirnya dalam kasus ini hanya kepentingan pribadilah yang “menentukan” etikanya (perilaku). Oleh sebab itu, dalam mengkaji etika Islam tidaklah cukup hanya dengan kemampuan akal semata tanpa keimanan.

Banyak penulis (termasuk Thomas Aquinas) percaya bahwa dengan mempelajari salah satu dari dua hal tersebut maka manusia akan bisa bersikap etis. Bagaimanapun kedua hal tersebut sama-sama penting, bila hanya salah satu saja yang diutamakan maka umat Islam akan menjadi umat yang lemah di dunia saja (sebagai khalifah) atau lemah di akhirat (sebagai hamba Allah).

Islam mendorong umat manusia untuk melakukan tazkiyah melalui partisipasi aktif dalam kehidupan material ini.

dengan tetap berperilaku etis di tengah godaan ujian dunia, kaum muslim harus membuktikan ketaatannya pada Allah SWT.

Kendati juga sangat banyak nilai-nilai humanisme dalam al Quran sebagaimana yang ada di etika sekuler. Dengan demikian, al Quran sebagai sumber etika dari ayatnya tidak boleh serta merta dipahami secara kebahasaan saja tapi juga harus memperhatikan konteks sosialnya.

Written by Albara

Jadilah yang terbaik di mata Allah,
Jadilah yang terburuk di mata sendiri,
Jadilah sederhana di mata manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Niat Puasa Puasa Ayyamul Bidh

Niat Sholat Dzuhur Imam Arab